Oleh: Ki Damar*
BATARA Kala adalah anak dari Batara Guru dengan Dewi Uma.
Suatu ketika sebelum mereka menjalin hubungan, Batara Guru mengajak Dewi Uma berkeliling kahyangan.
Angin berembus membuat betis Dewi Uma terlihat.
Karena terpancar sinar matahari, kecantikan Dewi Uma semakin membuat Batara Guru ingin memiliki Batara Uma.
Ia sempat mengajaknya berhubungan. Air maninya yang menetes ke laut menjelma menjadi seorang raksasa.
Bayi itu mengeram mencari siapa ayahnya.
Sementara itu, Dewi Uma yang tadi tidak menuruti nafsu Batara Guru dikutuk menjadi Dewi Durga atau Premoni, yang diberi tempat di kahyangan Setra Ganda Mayit.
Bayi raksasa itu mengamuk di manapun ia berada. Kahyangan semakin geger.
Batara Guru mengetahui anak itu adalah darah dagingnya. Batara Guru kemudian mensyaratkan si anak untuk memotong taringnya jika ingin menjadi anaknya.
Raksasa itu menerima tawaran Batara Guru.
Sang Batara Guru kemudian memberkati raksasa itu dan memberinya nama Batara Kala. Artinya, yaitu Dewanya Waktu.
Batara Kala memakan siapa saja orang yang tak menghargai waktu. Lakon ini biasanya diceritakan khusus dalam cerita lakon Ruwatan oleh masyarakat jawa. (naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani