SUATU hari di Kerajaan Mandura, Prabu Baladewa tampak sedang berpikir keras.
Ia terpikir membangun pasar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Namun, Baladewa tak tahu siapa yang pantas menjadi kontraktornya.
Lalu ia mendapat saran oleh adiknya yaitu Prabu Kresna agar meminta Anoman sebagai kontraktor.
Baladewa akhirnya setuju. Ia segera memerintah Anoman memulai pembangunan.
Setelah berjalan 40 persen, Duryudana datang ke Mandura untuk melihat pembangunan Pasar Mandura.
Ia mengkrititisi bahan bangunan yang katanya tidak sesuai standar.
Duryudana lantas menawarkan diri agar pembangunannya diambil alih oleh Kurawa. Ia juga menyatakan siap membantu memasok semua bahan dan tenaga dari Astina.
Baladewa mengapresiasi tawaran adiknya. Namun, ia tak berani menyetujui karena sudah mempercayakan proyek ini kepada Anoman.
Baladewa hanya bisa meminta doa dari para Kurawa agar Anoman bisa menyelesaikan semuanya dengan lancar.
Apalagi anoman pernah menjadi tukang atau instruktur dalam pembuatan tambak di kala Prabu Rama Wijaya akan menyeberangi Samudra Hindia.
Mendengar penjelasan itu, Duryudana bergegas mengatur siasat agar Anoman tidak dipercaya dan diberhentikan sebagai kontraktor.
Dengan begitu, proyek tersebut dapat diambil alih oleh Kurawa.
Sengkuni menyuruh Kurawa berbuat onar agar Anoman tidak fokus dalam pembangunan dan merusak bangunan yang dibuat Anoman.
Pragota yang mengetahui hal itu melapor kepada Prabu Baladewa. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani