SEMENTARA itu di Negara Puserbumi, Prabu Nagatawingnya dan pujangganya yaitu Begawan Dewapretala berencana ingin mengacau di Amarta.
Sebab, Amarta sedang sepi. Tidak ada satupun senopati perang karena Gatutkaca menghilang.
Kesempatan itu membuat Prabu Nagatawingnya ingin menguasai Amarta.
Dewapretala sebagai pujangga menyetujui karena Amarta adalah negara yang subur dan luas. Sehingga akan menguntungkan Puserbumi.
Ia sangat mengidamkan Amarta karena negaranya indah seperti seperdelapan kahyangan Batara Indra.
Terlebih, pendapa yang ada di kerajaan tersebut adalah pendapa Batara Indra yang dulu dipindah oleh Kyai Semar.
Karena Prabu Nagatawingnya adalah raja ular, ia mengarahkan semua ular untuk pergi ke Amarta.
Rakyat Amarta menjadi sangat gaduh karena tiba-tiba banyak ular berdatangan.
Banyak hewan dan manusia yang diteror oleh ular-ular dari kerajaan Puserbumi.
Kegaduhan itu membuat Tambakganggeng takut dan melapor ke Prabu Puntadewa.
Ia menyuruh Tambakganggeng untuk menyusul adiknya, Werkudara, yang mungkin masih belum jauh dari Amarta untuk segera pulang.
Matahari semakin terik. Ia melihat seseorang bersandar di sebuah pohon. Orang itu Raden Werkudara.
Bergegas menemui Werkudara, Tambakganggeng segera menjelaskan kejadian di Amarta.
Meski mendesak, Kresna tidak mengizinkan Werkudara kembali.
"Saru yen ana satria durung rampung jejibahane wis bali mulih durung antuk gawe," kata kresna.
Tambakganggeng diminta mengatasi kejadian di Amarta dan menunggu pulangnya mereka bersama Gatutkaca. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani