SEMENTARA itu di Amarta, Puntadewa memangku Abimanyu bersama Werkudara. Mereka kedatangan Anoman.
Ia datang karena diminta Prabu Kresna untuk membawa Abimanyu yang sedang sakit.
"Memang kakak prabu Kresna ada di mana?," tanya Puntadewa.
Anoman menjawab bahwa Kresna sedang berada di Kendalisada, tempat Anoman tinggal.
"Wah, tumben sekali, Kresna di sana," kata Bima.
Anoman mengatakan bahwa Sri Kresna baru ingin bertamu ke Kendalisada setelah sekian lama tak pernah ke sana.
Puntadewa lantas menitipkan Abimanyu kepada Anoman. Ia dimasukkan ke gendaga lalu pergi.
Belum lama, Anoman datang lagi.
Anehnya, Anoman mengaku bahwa ia baru datang ini. Bima terheran-heran. "Baru saja kamu datang membawa Abimanyu, katanya kamu disuruh Kresna," ujarnya.
Anoman langsung curiga. Ia khawatir ada yang menyamar sebagai dirinya.
Tanpa menunggu lama lagi, Anoman bergegas pergi mencari penipu yang menyaru dirinya.
Werkudara yang takut kehilangan Abimanyu bergegas menyusul Anoman.
Rupanya, Anoman yang awal datang tadi adalah Sudaramanik yang sedang menyamar.
Tentu saja, Sudaramanik membawa gendaga berisi Abimanyu itu ke Astina.
Setelah sampai di Astina, Sengkuni menyuruh Abimanyu dibakar dalam api yang besar.
Mendadak, muncul seekor harimau bernama Singonabda yang terbang di atas awan.
Melihat Kurawa akan membakar gendaga itu, Singonabda mengubah dirinya agar tidak terlihat dan menyelamatkan gendaga berisi Abimanyu itu.
Dan yang diketahui Kurawa, Abimayu telah mati. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani