Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Wahyu Tunggul Nogo (2) - Bukti Kesetiaan Durna

Ki Damar • Kamis, 2 Mei 2024 | 02:45 WIB
Ilustrasi cerpen lakon wayang Wahyu Tunggul Nogo (RADAR MADIUN)
Ilustrasi cerpen lakon wayang Wahyu Tunggul Nogo (RADAR MADIUN)

RASA senang dirasakan Duryudana. Setelah ia tahu bahwa Durna mencoba menyerang pihak Pandawa. Itu menandakan bahwa Durna memihak Kurawa.

"Apa maksudnya itu, Bapak Durna? Kenapa harus Abimanyu yang dibunuh? Kenapa tidak Werkudara, Arjuna, atau bahkan Puntadewa?," tanya Duryudana.

Durna menjawab dengan tegas.

"Ketahuilah, anak prabu, selama ini Pandawa mendapatkan banyak wahyu, benarkan?," ujarnya.

Sang Raja Astina mengangguk.

Durna kemudian menjelaskan maksudnya.

"Bermula dari Arjuna yang mendapat Wahyu Makutarama dan Wahyu Tohjali, Abimanyu kemudian mendapat Wahyu Cakraningrat," sebutnya.

"Maka, tidak aneh bahwa suatu hari nanti keturunan Arjuna akan menjadi raja di tanah Jawa, khususnya anak dari keturunan Abimanyu," sambung Durna.

Duryudana menganggukkan kepala, tanda percaya pada sang guru.

"Maka dengan menghabisi Abimanyu, artinya Pandawa tidak akan bisa membuat keturunannya berkuasa di pulau Jawa. Keturunannya akan terputus," ujarnya.

"Itu alasanku kenapa Abimanyu harus mati. Apakah sekarang anak prabu percaya pada Durna bahwa saya benar-benar memihak Kurawa?"

Duryudana lalu memeluk Durna. Ia kemudian menyuruh Sengkuni bergerak.

"Paman, kerahkan Kurawa untuk membantu Sudaramanik," ujarnya.

"Katakan, bila nanti dia berhasil membunuh Abimanyu, maka dia akan diangkat menjadi putra mahkota dan saya nikahkan dengan lesmanawati, anakku," imbuh Duryudana.

"Sendika ngestoaken dawuh, anak prabu," kata sengkuni. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #Pandawa #Gatutkaca #abimanyu #Kresna #Lakon #wayang