SUKRASANA tampak kelelahan.
Dia tertidur di bawah pohon yang sangat rindang.
Melihat itu, Sumantri mengingat memori saat di padepokan Jatisrana.
Sumanrti sering menggendong adiknya ketika tertidur di sembarang tempat lalu dibawa masuk ke kamar.
Kini, keadaan sangat berbeda. Sumantri diperintah untuk membunuh adiknya sangat dicintai.
Ya, sosok kerdil yang membuat takut Citrawati itu adalah Sukrasana.
Melihat adiknya mendengkur, Sumantri ia tahu bahwa Sukrasana sangat lelah mengikutinya sampai ke Maespati
Sumantri tak kuat hati, tangis tak terbendung.
Adiknya adalah seorang yang tulus dan cinta pada dirinya.
Tangan Sumantri bergetar.
Sebentar-sebentar dia harus mengusap air mata yang keluar.
Lalu, Sukasrana bangun dari tidurnya.
Sukrasana melihat Sumantri membawa sebilah keris.
Memiliki kecerdasan dan kepekaan perasaan, Sukrasana tahu bahwa Arjuna Sasrabahu menyuruh Sumantri untuk membunuhnya.
” Kakakku yang aku sayangi, kalau kau disuruh rajamu untuk membunuhku, maka bunuhlah. Aku rela mati demi kejayaanmu,'' kata Sukrasana.
''Kakak, aku sebenarnya tahu kalau kamu menyayangiku. Tapi kamu malu mengungkapkan padaku,'' lanjut Sukrasana.
''Kalau kematianku adalah ungkapan sayang pada diriku, maka laksanakan’' ujar Sukrasana.
Sumantri memeluk erat adiknya.
Tak sengaja, keris itu menusuk perut Sukasrana.
Sukasrana memeluk erat kakaknya untuk terakhir kali.
Ketika Sumantri tahu bahwa adiknya tertusuk dan mati, dia menjerit sejadi-jadinya.
Arjuna Sasrabahu datang.
Sumantri menjelaskan bahwa Sukasrana adalah adiknya.
Arjuna Sasrabahu merasa bersalah.
Sumantri diangkat menjadi patih bernama Patih Suwanda. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan