DI Wirata, umbul-umbul bendera dan pataka memenuhi kerajaan.
Terdengar meriam berkali-kali berdentum memberikan penghormatan kepada Raja Mandura dan Amarta.
Mereka meminta keadilan Sri Maharaja Baginda Matsapati tentang keramaian yang terjadi di Widarakandang.
Tak biasanya Wirata mendapat tamu para cucu-cucunya yang sekian lama tak berjumpa dan sekarang sudah menjadi raja besar.
Ada Baladewa dan Arjuna, serta Udawa dan Sagopi.
"Eyang, saya ingin minta kejelasan masalah Widarakandang. Udawa minta kebebasan tanah. Artinya ia ingin lepas dari kerajaan Mandura," kata Baladewa.
"Sadumuk batuk sanyari bumi yen manungsa wus ngrembuk lemah kui babagan kang saru, opo meneh perkara warisane wong tua, mula aku njaluk sing kudu wicaksana," tutur Matsapati.
Baladewa kembali bertanya.
"Eyang, bagaimana menurut buku Pustakaraja Purwa mengenai Widarakandang itu?," ia bertanya.
Dengan membawa Pustakaraja, Prabu Matsapati menjelaskan isi buku Pusatakaraja.
"Widarakandang adalah bumi perdikan, artinya tanah yang merdeka atau bebas dari semua pihak, yang dimaksud pihak ini adalah Mandura atau negara sekitarnya," jelasnya.
"Hmmm. Bila begitu, saya minta bukti surat yang ditandatangani Rama Prabu Basudewa yang menjelaskan bahwa Widarakandang tanah merdeka," kata Baladewa, dengan nada tinggi.
Matsapati lantas bertanya kepada Udawa.
"Apakah ada surat yang dibuat Prabu Basudewa mengenai Widarakandang, Udawa?," tanya Matsapati. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani