MENDENGAR perkataan Dresanala, Durga sangat marah.
Seolah mengatakan bahwa anaknya adalah anak yang berlindung dalam kemben ibunya alias anak manja.
Kesabaran habis, Durga mengambil ranting pohon untuk memecut dan memukul Dresanala.
Dresanala berteriak kesakitan.
Saking kerasnya berteriak, jabang bayi dalam kandungan Dresanala lahir.
“Wah, ini dia anak Arjuna itu, kebetulan sudah lahir. Bayi ini akan merasakan sakitnya penderitaan,'' kata Durga.
''Dewasrani, bawalah Dresanala ke negara Tunggul Malaya. Ibu akan membunuh bayi ini’’ lanjut Durga.
Durga membawa bayi itu ke kawah Candradimuka.
Anak Arjuna itu hendak dibakar.
Tak dinyanya, niat jahat Durga diketahui oleh Semar yang hendak ke kahyangan.
Dengan cepat Semar masuk dalam kawah.
“Hai kawah Candradimuka, kamu jugalah makhluk, aku yakin kamu punya hati. Bila bayi itu tidak bersalah, maka jadilah angin yang sejuk. Tapi bila bersalah, bakarlah saya bersama dengannya,'' ujar Semar kepada kawah Candradimuka.
Bayi yang ada di tangan Durga dilempar ke kawah.
Benar saja, kawah menjadi sejuk dan tidak panas.
Durga yang langsung pergi tidak mengetahui hal ajaib itu.
Melihat bayi yang terkapar di tanah, Semar merasa iba dan berkata, “Kamu tidak salah, maka bangkitlah menjadi besar,’’.
Bayi itu lalu menjadi remaja yang tampan.
“Aku ini siapa mbah?’’ tanya bayi remaja itu.
“Karena kamu besar dikarenakan geni (api) kawah , maka kamu saya beri nama Wisanggeni. Artinya manusia yang besar karena bisa (racun) api. Kamu adalah cucu dari dewa api, Ndara,’’ terang Semar.
''Lalu ayahku siapa?’’ tanya Wisanggeni.
“Entah saya tidak tahu, tanyalah pada para dewa di kahyangan. Bila mereka tak tahu, hajar saja,’' ucap Semar. (*/den)
Penulis alumnus ISI Surakarta