DI taman kerajaan yang diterangi cahaya rembulan itu, Rahwana dan Sinta masih berbincang. Seakan itu akan menjadi momen terakhir mereka.
"Sungguh aku salah menilaimu, Rahwana. Kamu adalah sosok lelaki yang sayang orang tua dan kehilangan kasih sayang keluarga. Sebenarnya bila kamu diasuh oleh orang tuamu dan mengenal cinta kasih kedua mereka, aku yakin kamu adalah lelaki yang baik," kata Sinta.
"Semua ini bukan salahmu. Aku minta padamu untuk menemui Prabu Rama dan meminta maaflah. Ceritakan semua ini kepada Ramawijaya, pasti kamu akan dimaafkan," sambungnya.
Rahwana berusaha menjawab dengan lemah lembut.
"Ini bukan masalah baik atau buruk, ini samua adalah takdir yang aku pilih. Bila aku meminta maaf kepada Rama, sia-sia pengorbanan orang yang mati membela diriku. Aku akan dihujat di akhirat sebagai raja yang kehilangan martabat seorang prajurit," sebutnya.
"Tinggalah di sini semaumu. Aku akan maju berperang. Ketika aku mati nanti, ingatlah bahwa Rahwana adalah raja yang mengorbankan semuanya demi cintanya," tutur Rahwana, seraya pergi meninggalkan sang pujaan hati.
Ia terbang ke langit menuju tempat Ramawijaya. Dari atas langit, Rahwana meludah ke bumi.
Ludah itu turun menjadi panah yang menghujani prajurit Ramawijaya.
Banyak prajurit Rama yang tewas karena panah itu.
Anoman yang mengetahui itu berhasil menarik Dasamuka turun. Peperangan sengit pecah antara keduanya.
Anoman kalah dan mundur. Kali ini, Ramawijaya maju. Ialah lawan yang dinantikan oleh Sang Dasamuka.
Perkelahian keduanya dimenangkan Ramawijaya. Dasamuka mati terkena panah guwawijaya.
Namun mendadak, ia hidup kembali.
Berkat ajian pancasona, Rahwana tak bisa menemui ajal. Ia abadi. Sepanjang kakinya menyentuh tanah.
Semar lantas memberi tahu Rama mengenai rahasia ajian yang dimiliki Rahwana.
Rama kemudian menyuruh Anoman untuk mengangkat sebuah gunung.
Dasamuka yang terkena panah langsung ditimpa gunung oleh Anoman. Ia tak bisa bangkit. Pada akhirnya, Rahwana menemui ajalnya. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani