WERKUDARA menjawab, ''Aku khawatir pada Kunti ibuku karena sudah terlalu lama meninggalkan pandawa. Aku takut ibuku kenapa-kenapa apalagi baru saja menghadapi ujian seperti ini,''.
''Sungguh aku tidak mengira bahwa kurawa merencanakan ini untuk membunuhku. Bila Kunti ibuku tidak menghalangi, pasti sekarang aku sudah tiba di Astina dan membunuh Duryudana,'' lanjut Werkudara.
''Aku percaya, pasti hari ini Duryudana diwisuda menjadi raja Astina karena pandawa sudah dianggap tidak ada,’’ yakin Werkudara.
Kunti menejelaskan secuil makna ikhlas pada anaknya, ''Werkudara, ingatlah yang namanya harta benda tidak ada yang abadi. Semua adalah titipan. Bahkan, ibu ataupun kalian sesungguhnya bukan milik ibu atau milik kalian,''.
''Semua adalah milik Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya dititipi sebongkah kemuliaan untuk saling mencintai, tapi kadang manusia buta, kemuliaan itu digunakan untuk saling menjatuhkan,’’ sambung Kunti.
Werkudara lagi-lagi bertanya, ‘’Kenapa hal itu bisa terjadi ibu?’’.
Kunti menjawab sambil menggandeng tangan Bima (nama lain Werkudara), “Karena manusia itu di naungi yang namanya nafsu serakah dan tamak sehingga rela melakukan apapun demi kemuliaan dirinya sendiri Kadang mereka rela membohongi manusia lainnya demi kepentingan pribadinya. Sesungguhnya kemulian yang ia dapat itupun juga bohong karena diperoleh dari menipu,''.
Selang beberapa saat kemudian, si kembar Nakula dan Sadewa dengan kondisi menangis menghampiri Kunti.
Kunti sejenak melihat ke arah Puntadewa dan Arjuna.
Seolah ia bertanya kenapa adikmu menangis.
Puntadewa dan Arjuna yang kontak batin mereka terhubung langsung menundukkan kepada. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan