DARI kejauhan, Bisma melihat yang maju di medan perang berganti sekelompok prajurit perempuan.
Ia langsung merasa kebingungan.
Di antara para perempuan itu, ia ada Srikandi.
"Wahai Srikandi, apa yang kau lakukan di medan perang? Apa Pandawa sudah kehabisan senopati hingga perempuan disuruh pergi ke Kurusetra?," tanya Bisma.
Jawaban Srikandi membuat Bisma kian terkejut.
"Jangan banyak bicara. Hari ini akulah senopati yang menggantikan eyang Seta. Maka jangan ragu untuk melawanku," ujarnya.
Terjadilah pertempuran. Sang Bisma menghadapi Dewi Srikandi.
Meskipun seorang perempuan, namun Srikandi mampu menahan imbang Resi Bisma.
Tapi karena kekuatan perempuan terbatas, Srikandi akhirnya tersungkur ke tanah.
"Sungguh, kau ksatria sekaligus pandita yang sakti, maka aku pasrah. Meski jiwa ragaku hancur, aku akan tetap bertekad menjadi seorang senopati wanita," kata Srikandi.
Melihat Srikandi yang tak berdaya itu, Bisma melihat bayangan Dewi Amba pada diri Srikandi.
Amba adalah seorang yang ia cintai dulu, yang mati karena ulah Bisma sendiri.
Maka, Bisma tak berdaya melihatnya.
Tahu sang lawan lengah, Dewi Srikandi menggunakan kesempatan itu untuk menusuk Bisma dengan tusuk konde yang ia bawa.
Bisma yang mengerang sakit melihat perempuan yang ia cintai di langit sedang menantinya.
Meskipun mati, ia juga merasa bangga bahwa matinya karena membayar lunas apa yang ia tanam dahulu.
Ia dulu membunuh perempuan, kini ia terbunuh oleh perempuan. Dia pun menuju surga di mana Dewi Amba menunggu sang Bisma alias Dewabrata. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani