PERANG Baratayudha berlangsung sengit. Tak terasa, peperangan ini sudah berlangsung beberapa hari.
Basukarna baru saja ditetapkan sebagai senopati Kurawa setelah gugurnya Pandita Durna.
Banyak prajurit yang menantikan tandang kridanya sang putra fajar Batara Surya itu.
Prabu Duryudana mengumpulkan para ksatria Astina yang tersisa.
"Kakang Basukarna, saya sangat senang di hari penobatan pertama kakang Basukarna berhasil membunuh Gatutkaca anak Bima," kata Duryudana.
"Maka dari itu, kakang Basukarna, masalah hari esok saya percayakan padamu seutuhnya!"
Basukarna menghela nafas dan mulai berbicara pada raja Astina di hadapan para punggawa.
"Yayi prabu Suyudana, saya telah berusaha sekuat tenaga, tetapi sangat berat bila saya harus maju ke medan perang tanpa adanya kusir Senopati," ujarnya.
"Karena patih saya Hadimanggala yang menjadi kusir telah tewas pada pertarungan sebelumnya," sambung Basukarna.
Duryudana lantas berpikir sejenak.
"Tunjuk siapa saja yang pantas menjadi kusir, paduka kakang Basukarna. Pasti saya akan perintahkan dia untuk melayani kakang Narpati Basukarna."
Karna kemudian mennyampaikan satu permintaannya.
"Saya meminta pangestu dari kanjeng rama Prabu Salya sebagai kusir senopati, yayi prabu."
Seketika, Prabu Salya berdiri dan menatap Basukarna dengan sorot mata yang tajam. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani