SEMENTARA itu di Pesanggrahan Gupalaya, para Pandawa merasakan duka yang mendalam karena putra kesayangan mereka yang menjadi agul-agul telah gugur di medan perang.
Werkudara dan Arjuna tak berhenti menangis.
Sang Bima hanya terdiam dan termenung meratapi nasib ditinggal anak yang paling disayangi.
Dia sangat dendam dengan Basukarna, padahal masih kakaknya sendiri.
Bima lalu buka suara.
"Puntadewa mbarepku, biarkan aku jadi senopati, dan aku akan berangkat menghancurkan bumi Kurusetra bersama angkara murka Kurawa," kata Bima, dengan penuh emosi.
"Tetapi bila aku mati, ikhlaskan aku menyusul anakku!"
Puntadewa mendekati Bima dan mengelus kepala adiknya.
"Adikku Bima, sabarlah meskipun kamu kehilangan anakmu, tapi ingatlah jasanya, ia berhasil memukul mundur kakang Basukarna hingga kini kehilangan pusaka terkuatnya," ujar Puntadewa.
"Kini ia sekarang bukan apa-apa, Werkudara."
Kresna lalu berupaya mengobarkan semangat para prajurit.
"Werkudara, Arjuna, tegakkan badanmu. Lihatlah esok hari, kakakmu akan maju lagi menjadi senopati perang. Kalian harus bersiap, majulah dengan jiwa prajurit dan tenang, bukan karena nafsu amarah. Karena itu hanya akan membuat dirimu tak tenang," jelasnya.
Kunti yang punya gagasan lain menyampaikan pendapatnya.
"Anakku Pandawa, apakah tidak mungkin bila kalian menyuruh kakakmu Basukarna bergabung dengan kita? Semoga saja ia berubah pikiran dan ikut bersama kita," tutur Dewi Kunti.
Mendengar itu, Arjuna emosi.
"Ibu apakah tidak melihat apa yang dilakukan oleh kakak Basukarna? Dia tega membunuh Gatutkaca. Mereka adalah cucu paduka ibu. Apakah ibu tidak kasihan pada cucu-cucu paduka?." (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani