PERTARUNGAN sengit tak terelakkan. Pasukan Raden Citrasena langsung menyerbu Astina.
Citragada dan Citawirya yang maju langsung di garis depan berhasil mengalahkan para pasukan lawan dengan mudah.
Melihat itu, Citrasena langsung maju membela pasukannya yang kalah.
Citawirya kewalahan hingga akhirnya mundur.
Maklum, karena Citawirya mempunyai sakit bawaan sejak ia lahir.
Andai dia tidak mempunyai penyakit bawaan, kekuatannya diyakini dapat menyamai Citragada. Bahkan, ada yang beranggapan bahwa Citrawirya bisa lebih sakti dari sang raja Astina.
Tapi, Citawirya tak menyerah. Ia terus berusaha melawan.
Pada akhirnya, Citawirya tewas di tangan Citrasena.
Begitupun dengan Citragrada.
Ia juga tewas karena terbawa emosi melihat adiknya yang dibunuh sang lawan.
Sontak istrinya menangis.
Ia belum dianugerahi keturunan, namun sudah ditinggal sang suami.
Bisma yang datang langsung mengusir Citrasena.
Ia berhasil memukul mundur pasukan lawan.
Sang ibu, Dewi Durgandini, juga dirundung duka karena anaknya gugur dalam pertempuran.
"Engkau adalah satu-satunya keturunan pemilik darah Barata, maka sebaiknya engkau naiklah tahta, anakku," ujar Durgandini.
Bisma menolak. Sebab, ia sudah bersumpah tak akan naik tahta dan tak akan menikah. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani