MENDENGAR perintah Pandu ke Gandamana, Suman cekatan memotong pembicaraan.
''Alangkah baiknya saya saja yang berangkat, Prabu,'' kata Suman menawarkan diri.
''Kenapa harus kamu?'' tanya Pandu.
‘’Karena tadi saya yang menghadang putra-putra Tremboko dan menyuruh mereka menunggu balasan surat dari paduka,'' terang Suman.
''Alangkah baiknya juga, saya yang akan menghaturkan dawuh paduka. Kalau nanti Patih Gandamana yang datang, mereka akan menganggap paduka menerima tantangan itu,’’ imbuhnya.
Kendati cuma mendengar sekelumit cerita dari percakapan Pandu dengan Destarata sebelumnya, Suman paham betul isi surat yang diantarkan oleh anak-anak Tremboko itu.
Bukan tanpa sebab Suman kelewat mengerti isi surat.
Usut punya usut, surat yang dari Tremboko yang dibaca Pandu sudah tidak asli lagi.
Kelewat berani, Suman ternyata telah mengubah isi surat tersebut.
Akal bulus untuk mengadu domba dua kerajaan dimulai.
Pandu masih menimbang-nimbang penjelasan Suman.
Sejurus kemudian, Pandu menyilakan Suman melaksanakan perintah yang semula ditujukan kepada Gandamana itu.
Di lain sisi, kadang braja (anak-anak Tremboko) yaitu Arimba, Brajadenta, Brajamusti, dll, menunggu kabar dari Astina.
Sejatinya, surat dari Pringgondani adalah kabar untuk menyatakan kekeluargaan.
Pringgondani dan Astina adalah kerabat.
Namun, Suman yang licik mengubah menjadi tantangan perang.
Suman sampai di tempat kadang braja.
“Bagaimana raden, apakah sinuwun Pandu sudah membalas surat yang kami kirim? Jujur saja kanjeng rama prabu tidak sabar mendengar jawaban Prabu Pandu’’ kata Arimba.
Tanpa berkata, Suman langsung memberikan sepotong surat ke Arimba.
Isi surat itu, Wahai Pringgondani suratmu sudah saya terima. Maaf saja negara Astina tidak berkerabat dengan masyarakat yang mayoritas raksasa. Itu dapat menurunkan martabat kami sebagai wangsa barata. Lebih baik siapkan prajuritmu, menerima kedatanganku menyerang negaramu.
Wajah Arimba seketika merah padam.
Tanpa pikir panjang, dia langsung mengerahkan pasukan ke Astina tanpa persetujuan Tremboko, ayahnya. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan