DI Candi Saptaharga, Kresna dan para Pandawa masih setia menunggu.
Kresna lantas bertanya kepada Arjuna, "apa maksudmu dan saudara-saudaramu yang ingin membangun candi saptaharga?"
"Kakak prabu, sesungguhnya kami berada di sini untuk mengingat jasa para leluhur Pandawa, dan mendoakan supaya mereka tenang dengan tirakat yang kami lakukan kakak prabu," jawab Arjuna.
Kresna tersenyum.
"Itu hal yang baik, tapi apakah kamu tahu kewajibanmu yayi?"
Arjuna bertanya, "apa itu kaka prabu?"
"Tugasmu adalah menjadi satriatama yang harus menegakkan keadilan dan memberantas angkara murka. Bila kalian berbuat hal seperti ini, kalian menunjukkan jiwa kabrahmanan," jelas Kresna.
"Artinya, Pandawa lupa akan kewajiban menjadi satria," sambungnya.
Puntadewa balik bertanya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, kakak prabu?," ujarnya.
"Jadikan ilmu kabrahmanan menjadi hal untuk mendewasakan dirimu agar jiwa satrimu tegak dan dekat dengan hal kebaikan," kata Kresna.
Di tengah pembicaraan mereka, datanglah Srikandi bersama Priyambada dan Mustakaweni yang menghaturkan bahwa mereka sudah berhasil membawa kalimasada.
Namun, Kresna tak melihat mereka membawa pusaka tersebut.
"Lalu di mana pusaka jamus kalimasada itu?," tanya Kresna.
"Dibawa Petruk, uwak prabu," jawab Priyambada.
Mendengar itu, Kresna langsung menggelengkan kepala.
Ia lantas menyuruh Semar, Gareng dan Bagong untuk mencari Petruk.
Di negara Lojitengara, Petruk rupanya sedang bertamu pada Prabu Jayasentika dan ia ingin meminta pertolongan.
Karena negara itu jajahan Amarta, ia meminta Jayasentika untuk lengser sebentar dan digantikan oleh Petruk sedangkan Jayasentika dijadikan patihnya.
Tentu saja, Jayasentika marah dan menghajar Petruk.
Namun karena Petruk membawa jamus kalimasada, Jayasentika akhirnya kalah dan tunduk kepadanya. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani