TOKOH satu ini kerap muncul dalam cerita wayang. Ialah Cakil. Menariknya, Cakil bukanlah nama asli.
Cakil hanya julukan untuk raksasa dengan gigi taring panjang di mulutnya.
Ia bisa diberi nama apa saja oleh dalang yang memainkan wayang.
Terkadang diberi nama Ditya Gendirpenjalin, kadang Gendringcaluring, Klanthangmimis, atau Kalapraceka.
Bahkan ada dalang menamainya Ditya Kala Plenthong.
Dalam pewayangan, Cakil bersuara melengking dengan gaya bicara yang cepat.
Cakil juga digambarkan sebagai raksasa yang lincah, mahir pencak, dengan gaya berkelahi yang diselingi tarian yang khas.
Meski yang diajak berbicara berhadap-hadapan tapi ia seperti bicara dengan orang di kejauhan.
Sebagai tokoh raksasa, ia bertugas sebagai penjaga batas wilayah suatu negara.
Jika ada satria (paling sering Arjuna atau Abimanyu) yang melewati daerah tersebut, biasanya dihadang oleh Cakil hingga terjadi peperangan yang disebut Perang Kembang.
Oleh karena itu Cakil dalam pewayangan dimasukkan dalam kategori Buta Begal.
Cakil biasanya ditemani oleh tiga raksasa. Maksudnya sebagai simbolisasi nafsu manusia.
Malangnya, dalam perang ia selalu diceritakan mati terkena keris pusakanya sendiri. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani