Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

LAKON WAYANG | Abimanyu Gugur (1) - Maju Perang tanpa Perhitungan Matang Berarti Bunuh Diri

Ki Damar • Selasa, 4 Juni 2024 | 02:47 WIB
Ilustrasi lakon wayang Abimanyu Gugur (RADAR MADIUN)
Ilustrasi lakon wayang Abimanyu Gugur (RADAR MADIUN)

BISMA mati di medan perang Baratayudha.

Prabu Duryudhana sangat sedih kehilangan eyangnya tersebut.

Bersamaan dengan itu, pihak kurawa tak memiliki senopati.

Di pesanggrahan Bulupitu, kekosongan senopati menyulut perdebatan para petinggi Astina.

Termasuk, Narpati Basukarna dari Awangga dan ayah mertuanya Prabu Salyapati.

Adu argumen antara menantu dengan mertua itu membuat Duryudhana jengkel dan berkata, ‘’Diamlah, saya sendiri yang akan menjadi senopati besok pagi,’’.

Durna memberanikan diri menyuruh Duryudhana duduk dengan tenang dan santai.

Dia juga menawarkan diri ke Duryudhana untuk menjadi senopati.

Duryudana bertanya, ''Siasat perang apa yang akan Bapa Durna gunakan? Eyang Bisma saja gugur dalam peperangan. Bila maju tanpa perhitungan matang itu sama artinya dengan bunuh diri,’’.

Durna menjelaskan bahwa kebutuhan senopati di pihak kurawa saat itu amat mendesak. Harus segera didapuk.

Sebab, Werkudara dan Arjuna sudah masuk perangkap.

Dua ksatria itu digiring menjauh dari Kurusetra, medan peperangan Baratayudha.

Werkudara dan Arjuna terpancing mengejar Gardapati dan Bogadenta hingga ke samudera selatan dan samudera utara.

Itu artinya kekuatan pandawa berkurang.

''Saya akan menerapkan Cakrabyuha, musuh yang masuk jebakan ini pasti akan mati. Cuma Arjuna yang tahu tentang taktik ini,'' ungkap Durna.

Duryudhana semringah mendengar penjelasan Durna.

‘’Baiklah Bapa Durna, saya percaya engkau. Esok ketika matahari muncul, engkau akan menjadi senopati perang kurawa,'' kata Duryudhana. (*/den)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#kurawa #werkudara #gugur #cerpen #Pandawa #abimanyu #Durna #arjuna #Lakon #wayang