ADA banyak tokoh wayang kembar dalam dunia pewayangan Jawa.
Termasuk, Cingkarabala dan Balaupata yang berwujud raksasa.
Keduanya adalah putra bungsu Prabu Patanam, raja Dahulagiri, sebuah kerajaan tua di era kedewataan.
Pada masa itu, diceritakan bahwa udara masih segar dan jumlah manusia belum banyak.
Hubungan antara manusia serta raksasa dengan para dewa di kahyangan sangat dekat.
Cingkarabala dan Balaupata berwujud raksasa kembar.
Keduanya merupakan adik dari Lembu Nandini dan Lembu Nandana.
Diceritakan versi lain, Cingkarabala dan Balaupata adalah putra Bathara Bremani. Kakak sulung mereka bernama Manumayasa.
Berbeda dengan kakaknya yang lahir sebagai manusia biasa, Cingkarabala dan Balaupata berwujud raksasa.
Oleh Bathara Guru, Cingkarabala dan Balaupata diangkat menjadi dewa untuk menjaga Selamatangkep, yaitu gerbang yang menuju ke kahyangan Suralaya.
Ada juga versi yang menceritakan bahwa Cingkarabala dan Balaupata bukanlah anak dari Bathara Bremani.
Melainkan, putra dari Maharesi Gopatama, saudara kandung Lembu Andini. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan