AMARTA sedang ramai. Keluarga Pandawa, Kresna dan para saudaranya mengerumuni Bima yang baru saja pulang berguru dari Begawan Durna.
Mereka penasaran dengan ilmu kasampurnan yang berhasil dipelajari Bima.
Terlebih, Bima mengajari ilmu itu kepada Arjuna sewaktu ia menjadi pandita bernama Begawan Bima Suci.
Bagi para Pandawa yang lain, tidak adil bila yang diberi tahu ilmu kasampurnan hanya Arjuna.
Maka itu Bima diminta mewedarkan ilmu itu demi kebaikan.
Menurut Kresna, bila kebaikan itu disebarkan pada banyak orang, maka semakin banyak juga manusia yang akan berbuat baik sehingga dunia akan menjadi tentram.
Meskipun tidak banyak, pastinya akan mengurangi jiwa buruk bagi manusia yang mendengarkan.
Atas alasan itu, Bima alias Werkudara akhirnya mewedarkan ilmu kasampurnan.
"Ilmu kasampurnan itu adalah manusia mendarmakan jiwa dan raganya untuk kebaikan," tuturnya.
"Kalau satria, untuk menjaga negaranya. Apabila pemimpin, maka menjadi pemimpin yang adil dan jujur. Dan apabila pandit, ya rajin beribadah," Werkudara melanjutkan.
"Semua itu untuk mendarmakan kebaikan kepada Tuhan-Nya, dan manusia yang sampurna juga yang selalu ingat bahwa nikmat apapun itu dari Tuhan bukan dari manusia," imbuhnya.
Akibat kejadian ini kahyangan menjadi sangat gelisah. Bima mewedarkan ilmu kasampurnan pada khalayak.
Ditakutkan, manusia di bumi tidak mau menyembah dan menghormati dewa lagi, terutama Batara Guru.
Atas alasan itu, Batara Narada turun menemui Bima untuk mengajaknya ke kahyangan.
Tujuannya, untuk menerima pengadilan atas ilmu yang dia sampaikan. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani