Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Dewa Amral (2) - Kuda dan Kusir

Ki Damar • Senin, 10 Juni 2024 | 03:00 WIB

 

Ilustrasi cerpen lakon wayang Dewa Amral (RADAR MADIUN)
Ilustrasi cerpen lakon wayang Dewa Amral (RADAR MADIUN)

"IKUTLAH bersamaku, Bima. Batara Guru sudah menanti kedatanganmu. Engkau harus bertanggung jawab atas semua ilmu yang kau dapatkan dari Begawan Durna," tegas Narada.

Semua saudara Pandawa, Arjuna, Nakula dan Sadewa ingin ikut bersama kakaknya.

Bima lantas membawa saudaranya pergi bersamanya, kecuali Puntadewa dan Kresna.

Setelah Bima dan yang lain pergi dibawa Narada, Drupadi datang berlutut pada suaminya, Prabu Puntadewa.

"Kakang prabu, apakah paduka sudah lupa akan janji paduka? Bahwa Pandawa bagaikan telur satu wadah. Pecah satu pecah semua, mukti satu semuanya menikmati, sekarang adik-adik paduka dibawa, kenapa hanya diam saja?" tanya Drupadi.

Pertanyaan Drupadi membuat Puntadewa merenung.

Puntadewa berkata lirih sembari memegang kalung robyong tinggalan ayahnya, Prabu Pandu.

"Adikku, sungguh kau tidak bersalah, maka aku akan membelamu," ujarnya.

Lalu berubahlah Prabu Puntadewa menjadi raksasa besar yang membuat pendapa Amarta sampai bergetar.

Ia lalu bergegas pergi menyusul Bima.

Kresna yang melihat Puntadewa pergi hanya menghela nafas.

"Hmmm, lelakon kok ada-ada saja, Batara Guru ini suka sekali membuat kacau sesuatu yang baik, maunya apa coba?"

"Kalau sudah begini, akan terjadi kerusuhan di kahyangan dan dia sendiri yang akan kebingungan," lanjutnya.

"Baiklah, karena aku sudah berjanji Pandawa dan Kresna adalah kuda dan kusir, maka aneh bila kuda pergi sendiri tanpa kehadiran kusirnya," sambung Kresna, seraya pergi menyusul Puntadewa ke kahyangan. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #cerpen #Pandawa #Kresna #arjuna #Lakon #wayang