DI depan gerbang kahyangan, muncul raksasa yang sangat besar.
Ia mengaku bernama Dewa Amral.
Tanpa basa-basi, dia langsung mengamuk dan merusak kahyangan.
Banyak dewa yang turun menghalangi Sewa Amral. Dari Batara Indra, Brahma, sampai Penyarikan, semua terdesak dan tak dapat mengalahkan si Dewa Amral.
Melihat kekuatan Dewa Amral yang sakti itu, Batara Guru turun tangan sendiri menghadapi Dewa Amral.
Raksasa itu sangat marah sampai membuat Batara Guru tak kuasa menghadapi Dewa Amral dan akhirnya mundur.
Ketika Batara Guru mundur bersama Batara Narada, mendadak datang raksasa yang tidak beda besarnya dengan Dewa Amral dan ia mengaku bernama Amral Dewa.
"Wah, ini raksasa namanya hampir sama dengan Dewa Amral, cuma dibalik saja namanya. Ayo kita lari saja, pukulun!" kata Batara Narada.
Lalu, Dewa Amral dan Amral Dewa saling bertemu.
"Lho, kamu siapa?" tanya Dewa Amral.
Si raksasa yang mengaku sebagai Amral Dewa menjawab, "masa lupa dik, saya Amral Dewa. Lihat dengan seksama dong!"
Dewa Amral menyadari bahwa raksasa di hadapannya adalah saudaranya.
Mereka lalu saling berpelukan dan berlari mencari Batara Guru.
Kedua raksasa ingin terus mendesak Batara Guru sampai ia mau mengakui kesalahannya.
Batara Guru dan Narada lalu bertemu dengan Semar.
Kyai Semar marah pada Batara Guru.
"Apakah kamu tidak melihat dengan matamu? Bima, ndara saya, membantu dirimu. Lalu kenapa kamu malah tutup mata dan telinga?" tanya Semar.
"Justru kamu menyalahkan dia demi egomu yang hanya ingin disembah. Ingatlah, kamu itu juga makhluk yang tak patut disembah! Karena yang pantas hanya Tuhan yang kuasa. Bila kamu tidak mengeluarkan Bima dari kawah, kahyangan akan saya bakar dengan api yang besar!" (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani