LAIN cerita di Pesanggrahan Gupalaya. Rasa duka masih menyelimputi tenda Pandawa.
Bahkan kayu bakar yang digunakan untuk acara pemakaman Abimanyu, sang putra mahkota Wirata, masih terlihat di seberang Pesanggrahan.
Dewi Utari tampak masih menangis. Ia terbayang Abimanyu, sang suami. Apalagi ia mengandung anak darinya.
"Bagaimana kau nanti akan hidup, anakku? Kamu tidak akan merasakan kasih sayang ayahmu."
Prabu Matsapati hanya terlihat menundukkan kepala. Ia lalu mendekati anak perempuannya.
Tangannya mencoba mengusap kepala sang putri yang terus berurai air mata.
"Sabarlah anakku, Kurawa akan menerima karmanya. Anakmu akan merasakan kasih sayang dari banyak orang. Lihatlah, semua orang di sini berjanji menyayangi anakmu," tuturnya.
Matsapati meminta Kresna untuk segera menyelesaikan Perang Baratayudha.
Atau jika tidak, harus segera membunuh Durna.
Sebab, Durna membuat barisan Pandawa sangat kerepotan.
Kresna berjanji akan memberi pembalasan yang lebih kejam kepada Kurawa karena telah membuat Pandawa menangis darah.
Ia bertekad, tangis darah akan dibalas dengan mandi darah.
"Arjuna dan Bima, siapkan diri kalian. Jangan kau ulangi kejadian kemarin, kau mudah dihasut serta mementingkan ego dan nafsumu itu," perintah Kresna kepada adik-adiknya.
Kresna juga meminta kedua adiknya untuk tidak jauh darinya saat di medan perang.
"Adikku Trustajumena, pimpinlah jalan perang, dan selalu waspadalah dengan sesuatu hal yang menguntungkan dirimu!" perintah Sri Kresna. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani