Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Durna Gugur (5/Habis) - Akhir Sang Begawan

Ki Damar • Rabu, 12 Juni 2024 | 04:00 WIB
Ilustrasi lakon wayang Durna Gugur (RADAR MADIUN)
Ilustrasi lakon wayang Durna Gugur (RADAR MADIUN)

KRESNA lantas prajurit Pandawa di sekeliling Durna untuk berteriak "Aswatama mati".

Para prajurit langsung berteriak, "Aswatama mati, Aswatama mati."

Teriakan para pasukan sampai membuat medan perang bergemuruh.

Aswatama khawatir ayahnya akan kehilangan fokus karena teriakan prajurit Pandawa.

"Jangan dengarkan ayah! Aku masih hidup, aku sedang bertarung dengan Arjuna," teriak Aswatama.

Sayangnya, suara sang anak tak dapat didengar Durna karena teriakan keras para prajurit Pandawa.

Benar saja, strategi itu membuat Durna panik.

Ia kemudian berusaha menemui Werkudara.

"Siapakah yang tewas tadi, Bima?" tanya Durna.

Werkudara menjawab, "yang mati adalah gajah Hestitama."

Mendengar itu, Durna merasa lega.

Lalu untuk memantapkan hatinya, ia bertemu Nakula dan Sadewa.

Berbeda dengan Bima, keduanya mengatakan bahwa yang mati adalah Aswatama.

Hati Durna kian gelisah. Jalan satu-satunya adalah menemui Puntadewa yang terkenal akan kejujurannya.

Namun ternyata, Puntadewa sudah diminta Kresna untuk berbohong. Sebab ini semua demi kejayaan Pandawa.

Puntadewa tidak bisa berkata apa-apa selain berbohong pada Durna. Kebohongan yang baru ia utarakan sekali seumur hidupnya.

"Siapakah yang mati, anak prabu?" tanya Durna, dengan sangat resah.

"Yang mati adalah Aswatama, bapak."

Jawaban Puntadewa menghujam jantung. Durna yakin sang anak yang ia cintai akhirnya mati.

Ia jatuh tak berdaya.

"Anakku satu-satunya, engkau adalah tujuanku bertahan sampai sekarang. Tapi malah mendahului ayahmu. Aku rela di pihak Kurawa karena kau dimuliakan Kurawa," ujarnya.

"Namun kau malah mati lebih dulu. Lalu apa gunanya hidupku ini!"

Semua terdiam melihat Durna yang tak berdaya.

Diam-diam, Kresna berbisik pada Trustajumena.

"Kamu seharusnya tahu apa yang harus kamu lakukan. Durna adalah orang yang membunuh ayahmu, ingatlah itu adikku," ujarnya.

Trustajumena lalu berjalan pelan menghampiri Durna yang sedang terduduk pilu.

Ia menenteng pedangnya yang sudah dihunus. Tanpa basa-basi, Trustajumena mengayunkan pedangnya yang tajam untuk memengal kepala Durna. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#cerpen #Pandawa #Durna #Kresna #Lakon #wayang