"BEGINI kanjeng rama, saya sebenarnya disuruh paman Arjuna untuk meminta bantuan Rama Werkudara agar ikut menikahkan adik saya, Baratalaras," ujarnya.
"Caranya dengan meminjamkan pusaka kuku pancanaka. Tadi saya belum selesai bicara namun eyang Durna datang dan lebih dulu bicara masalah ini, rama," jelas Gatutkaca.
Bima akhirnya paham.
"Lain kali, bicara itu yang benar dan jangan betela-tele. Artinya, Bratalaras dan Lesmana Mandrakumara sama-sama menginginkan wanita yang sama?" tanya Bima.
"Benar, rama kyai."
Bima kembali bertanya, untuk memastikan satu hal.
"Lalu, wanita itu sebenarnya siapa, Gatutkaca?"
"Dewi Karnawati, rama," jawab sang ksatria.
Gatutkaca kemudian diminta untuk kembali ke Madukara. Ia langsung cemas karena bakal kembali dengan tangan kosong tanpa membawa kuku pancanaka.
"Waduh uwak prabu, lalu nanti bagaimana saya harus menghadapi kemarahan paman Arjuna? Dikira saya tidak bisa menuntaskan kewajiban saya," kata Gatutkaca dengan nada gelisah.
Ia masih berharap uwaknya agar bersedia membantu.
Kresna kemudian memberi saran kepada Gatutkaca.
"Gatutkaca, kamu akan baik-baik saja. Percayalah pada uwakmu ini," kata Kresna.
"Karena di sini, kamu hanya sebagai utusan. Sehingga kamu tidak akan bertanggung jawab mengenai hasilnya. Maka, katakan apa adanya."
Gatutkaca lantas pergi menuju Madukara. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani