SEMENTARA itu, Werkudara dan saudara yang lain hanya bisa mengingat teror dari perang yang mereka jalani.
Perang adalah jalan bengis dan menumpahkan banyak darah.
Mereka masih teringat dengan anak, orang tua, saudara, dan teman yang gugur di medan perang.
Ingatan tangan yang berlumuran darah karena membunuh banyak musuh juga masih tergambar jelas di kepala.
Prabu Matsapati menyarankan Pandawa untuk segera kembali ke Wirata. Demi mempersiapkan boyongan mereka ke Astina.
"Para cucuku, bukannya eyang mengusir kalian. Tapi demi kebaikan kalian dan itu adalah wasiat ayah kalian, Astina adalah milik para Pandawa," tuturnya.
Puntadewa rupanya tak ingin grusa-grusu.
"Izinkan saya untuk mampir ke Amarta dan menyapa rakyatku disana dan menyuruh mereka bersabar agar tenang, eyang," ujarnya.
Prabu matsapati memperbolehkan karena mungkin rakyat Amarta merindukan sosok Pandawa yang sekian lama hilang.
Ia yakin, Amarta sungguh akan menjadi sejahtera kembali berkat kehadiran Pandawa. Sosok yang adil, jujur dan bijaksana.
Puntadewa lalu menyuruh Senopati Trustajumena untuk mempersiapkan para prajurit pergi dari Tegal Kurusetra ke Wirata.
Sementara, para Pandawa akan mampir ke Amarta terlebih dahulu sebelum berangkat ke Wirata. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani