DI Astina, Kresna tiba-tiba menarik tangan Bima.
"Wahai adikku, kelak ketika engkau bertemu dengan uwakmu Destarata, maka bersiaplah membawa gada rujakpolo!"
Bima alias Werkudara tentu saja terkejut.
"Untuk apa aku membawa gadaku? Padahal perang sudah usai," ujarnya.
Kresna lalu menjelaskan maksudnya.
"Ingatlah, engkau adalah tokoh Pandawa yang paling banyak membunuh Kurawa."
Werkudara tak terima. "Lalu kenapa?" kata dia.
"Apakah kau tahu bagaimana perasaan uwakmu? Ia mempunyai seratus anak tetapi mati semua. Dan engkaulah yang paing banyak membunuhnya, pastinya dia akan kesal dan kecewa. Permintaanku ini hanya untuk berjaga-jaga saja adikku!"
Werkudara menuruti perintah Kresna karena ia berperan besar dalam kejayaan Pandawa.
Di singgasana Astina, Destarata dan istrinya yakni Dewi Gendari menjamu Pandawa.
Ia memeluk Puntadewa dan semuanya. Namun, ia curiga karena tidak bertemu dengan Werkudara.
"Anakku Puntadewa, setelah aku bersalaman dan memeluk kalian, aku tidak merasakan kehadiran anakku yang gagah berani yaitu Bima," kata Dewi Gendari.
"Apakah dia juga bersamamu ke Astina, atau bagaimana? Atau dia masih merasakan kecewa hingga tak mau menemui uwaknya ini?" lanjut sang dewi. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani