Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Destarata Gugur (1) - Gagalnya Rencana Pembunuhan Bima

Ki Damar • Kamis, 27 Juni 2024 | 03:00 WIB

 

Ilustrasi lakon wayang Destarata Gugur (RADAR MADIUN)
Ilustrasi lakon wayang Destarata Gugur (RADAR MADIUN)

PERANG Bharatayuda baru saja berakhir. Di istana Astina, Destarata dan Dewi Gandari keluar dengan rasa malu.

Mereka gagal membalaskan dendam atas kematian anak-anak mereka, para Kurawa.

Bima yang menggunakan gada rujakpolo sebagai tameng membuat Destarata terkejut.

"Matilah kau, dasar pembunuh! Sehebat apapun engkau, ketika aku raba dengan ajianku, pastilah lebur," kata Destarata.

"Apakah kau tidak mengerti wahai uwakku? Yang kau raba adalah gada rujakpolo milikku, rupanya yang buta bukan hanya matamu, tetapi juga hatimu," jawab Bima.

"Aku membunuh anak-anakmu bukan karena keinganan dan hasrat nafsu untuk menang, namun kewajiban sebagai satriatama yang aku jalankan!" sambung Bima.

Ajian lebur seketi yang digunakan oleh Destarata gagal membunuh Sang Bima.

Alih-alih mengakhiri Bima, ajian itu membuat gada rujakpolo hancur berkeping-keping.

Ia langsung bergegas pergi dari Astina.

"Gandari, sedang apa kau ini? Ayo cepat kita pergi. Di sini bukan tempat tinggal kita!" teriak Destarata.

Gandari yang juga merasakan sakit hati dan malu lalu menggandeng tangan suaminya keluar istana.

Mereka kabur ke hutan.

Baca Juga: LAKON WAYANG | Pandawa Boyong (4) - Siaga Gada Rujakpolo

Kunti yang melihat kejadian itu sungguh merasa sedih dan tak tega.

Ia mencoba pergi mengejar kakaknya.

Sementara itu di dalam istana, Puntadewa datang dan merangkul Bima.

Ia cukup terkejut melihat reaksi Bima terhadap Destarata.

"Adikku kenapa kau tega berbicara seperti itu? Apakah kamu sudah dikuasai nafsu amarah?" tanya Puntadewa.

"Jangan berikan kesan pertama yang buruk di Astina. Karena kesan pertama merupakan sebuah gambaran jalan ke depan untuk negara ini, adikku," sambungnya. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

 

 

Editor : Mizan Ahsani
#destarata #Puntadewa #cerpen #Lakon #wayang