MENDAPAT wejangan dari Puntadewa, Bima justru merasa kesal.
Ia lalu mencoba mengutarakan semua isi hatinya kepada Puntadewa.
"Puntadewa mbarepku, apakah kau tidak lihat, tadi aku hendak dibunuh oleh uwakku sendiri? Rupanya dia menaruh dendam pada diriku," jelasnya.
"Dia berkata ingin memelukku karena rindu, tapi sebaliknya. Dia sungguh kejam! Menggunakan ajiannya untuk membunuhku. Itu bukan rindu, tapi dendam penuh luka," imbuh Bima.
Puntadewa kurang setuju.
"Sabarlah adikku, coba bayangkan ketika kamu kehilangan anak-anakmu, apa kamu tidak marah kepada pembunuhnya?" kata sang kakak.
"Sama halnya dengan uwak prabu, adikku. Bahkan ia harus kehilangan seratus anaknya! Kalau dia marah, itu manusiawi. Maka tenang dan sabarlah," sambung Puntadewa.
Bima berusaha menuruti perkataan kakaknya.
Ia tahu bahwa Puntadewa merupakan orang yang sabar dan seakan tak pernah amarah.
"Jangan samakan semua orang denganmu, kita semua tak sesabar dirimu!" gumam Bima dengan kesal.
Kresna yang mendengar itu hanya tertawa.
Baca Juga: LAKON WAYANG | Pandawa Boyong (2) - Teror Ingatan
Ia lalu berbisik kepada Bima.
"Sabar adikku, hahaha. Kalau kau tidak menghiraukanku, maka mayatmu sekarang sudah dikelilingi banyak orang. Dan mungkin kakakmu tidak akan menyuruhmu sabar," ujarnya.
Sementara itu di luar istana, Kunti yang pergi menyusul Gandari dan Destarata telah berada di hutan.
Ia kebingungan mencari Destarata.
Yamawidura yang melihat Kunti pergi sendirian lantas ikut menyusulnya.
Sebab, hutan Astina begitu berbahaya.
Ada banyak hewan buas yang berkeliaran.
"Apa yang kakang mbok lakukan di sini? Biarkan kakang Destarata menenangkan dirinya, kakang mbok!" kata Widura, kepada Kunti. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani