BANOWATI mencari akal supaya selamat.
’’Baiklah, aku akan melayanimu. Namun, taruh dulu kerismu! Apakah mungkin seorang wanita melayani pria dengan membawa pusaka?’’ kata Banowati.
Kartamarma mengiyakan permintaan Banowati.
Banowati lantas membuka baju, Kartamarma semakin tenggelam dalam nafsu.
Kartamarma langsung menubruk Banowati hingga jatuh ke tanah.
Kartamarma kelewat mabuk cinta dan nafsu.
Ternyata, Banowati tidak benar-benar meladeni Kartamarma.
Dia meraih keris milik Kartamarma.
Keris ditancapkan, Banowati berlumuran darah yang keluar dari tubuh Kartamarma.
Itu terjadi saat kondisi keduanya masih berkedapan.
Kartamarma yang sekarat berusaha sekuat tenaga merebut kerisnya.
Keris menancap ke jantung Banuwati.
Keduanya mati bersama.
Arjuna yang hendak menemui Banowati kaget.
Sebab Kartamarma mati di kamar Banowati.
Bima dan Baladewa mencari penyusup yang lain.
Puntadewa menyuruh Arjuna dan Si Kembar untuk melihat Parikesit yang berumur tujuh bulan, anak Abimanyu.
Saat Bima berpatroli, dia terkejut bahwa ada anak pandawa juga telah mati.
Yakni, Pancawala.
Pun, Srikandi istri Arjuna.
Mengetahui hal tersebut, Arjuna sangat marah. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan