NIAT jahat itu segera terlaksana.
Aswatama menemukan keberadaan Parikesit.
“Ini dia cucu Arjuna anak Abimanyu,'' kata Aswatama menyeringai.
''Hem, masih bayi seperti ini sudah digadang menjadi raja di Astina. Hahaha, enak sekali,'' lanjutnya.
''Biar pandawa mati dengan mengenaskan, akanku kubur impian mereka. Hai Arjuna, Puntadewa, ini cucu kalian yang kau gadang menjadi raja, akan aku bunuh,’’ ungkap putra Durna itu.
Aswatama tidak mengetahui bahwa di bawah kaki Parikesit ada panah pasopati yang menjaga.
Karena bayi mendengar perkataan Aswata, Parikesit terbangun dan menangis.
Kaki Parikesit memancal-mancal kasur.
’’Menangislah yang kencang! Setelah ini kamu akan lelap dalam tidur selamanya, hahaha’’ ungkap Aswatama.
Tak berselang lama, kiai pasupati yang ada di bawah kaki Parikesit tersepak.
Pusaka itu melesat ke arah Aswatama, menancap ke bagian leher.
Aswatama menjerit, ‘’Aduh, bagaimana bisa ini terjadi, tidak mungkin aku mati di tangan bayi berumur tujuh bulan. Dasar bayi laknat,’’.
Lalu Aswatama terkapar di tanah dan berlumuran darah.
Arjuna langsung menggendong Parikesit dan mengecek keadaan cucunya.
’’Wahai cucuku, syukur kau selamat. Aku tidak menyangka bahwa di usiamu yang masih tujuh bulan, kamu bisa membunuh Aswatama yang membawa Cundamaanik. Aku percaya suatu hari kau akan menjadi raja yang hebat dan sakti,'' kata Arjuna.
Beberapa waktu kemudian, Astina kembali damai karena buron perang baratayuda sudah hilang. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan