DI balik rindangnya hutan Trajutrisna, tampak sepasang kekasih yang diam-diam bertemu.
Mereka adalah Raden Samba dan Dewi Hagnyanawati.
Raden Samba, seorang satria, menjalin cinta terlarang dengan istri Sitija yang notabene adalah kakaknya sendiri.
Meski banyak yang mengetahui tingkah laku mereka, tidak ada yang berani memberi tahu Prabu Sitija karena Dewi Hagnyanawati adalah istri raja.
Patih Trajutrisna, Pancatnyana, memperingatkan kepada Ancakugra bahwa hal ini berpotensi menimbulkan kekacauan di Dwarawati.
"Bersiaplah, Ancakugra! Kita akan menciptakan kerusuhan," katanya.
Ancakugra tersenyum setuju, mengingat dendam mereka terhadap Prabu Kresna.
Suatu hari, Prabu Sitija mengadakan pertemuan besar yang dihadiri oleh para penasehat dan pejabat negara.
"Pancatnyana, istriku akhirnya bersedia melayaniku, tetapi ada satu syarat yang harus kupenuhi," kata Prabu Sitija.
Pancatnyana bertanya, "permintaan apa itu, Sinuwun?"
Prabu Sitija menjawab, "dia akan melayaniku jika aku membuat jalan lurus dari Dwarawati ke Trajutrisna tanpa belokan."
Pancatnyana menyetujui dan siap melaksanakan perintah tersebut.
Prabu Sitija justru menegur sang patih.
"Jangan hanya siap-siap saja. Apakah kamu tidak tahu bahwa jika jalan lurus itu dibuat, maka akan menabrak makam Astana Gadamadana. Itu makam leluhur Mandura dan Dwarawati!"
Pancatnyana punya pandangan lain dalam hal ini.
"Jika Paduka benar-benar mencintainya, lakukan saja. Mungkin Ratu Ayu Hagnyanawati sedang menguji pengorbanan Paduka." (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani