LAMA berpikir, Prabu Sitija lantas merasa bahwa ucapan patihnya ada benarnya. Mungkin sang istri memang sedang menguji seberapa besar cinta Sitija.
Karena cinta yang besar membutuhkan pengorbanan yang besar pula.
Prabu Sitija segera memerintahkan Pancatnyana untuk menyiapkan prajurit dan segala keperluan untuk membuat jalan dari Trajutrisna ke Dwarawati.
Setelah para tamu bubar, datanglah Wilmuna.
Wilmuna adalah seekor burung garuda besar, kendaraan Prabu Sitija.
Ia datang membawa kabar kepada Raja Trajutrisna bahwa Raden Samba sering berkunjung ke Trajutrisna bersama Dewi Hagnyanawati selama beberapa bulan terakhir.
Sitija terkejut mendengar kabar itu.
"Apa kamu bilang? Hagnyanawati sering bertemu adikku? Hmm, jangan mengadu domba. Mungkin saja istriku butuh teman atau bantuan dari Samba."
Wilmuna berusaha meyakinkan sang raja bahwa ucapannya bukanlah dusta.
Ia sering berpatroli dari udara dan mendapati keduanya melakukan sesuatu yang dilarang.
Sitija sontak berteriak.
"Cukup! Jangan teruskan. Aku tidak akan percaya sebelum melihatnya sendiri!"
Wilmuna lantas pergi menemui Pancatnyana dan menjelaskan semuanya.
Timbullah akal dari sang patih Trajutrisna untuk membuat Samba dan Hagnyanawati bertemu.
Wilmuna diberi sebuah surat untuk dijatuhkan di tempat Raden Samba, yang isinya mengatakan bahwa Hagnyanawati menunggunya di Astana Gadamadana.
Sebaliknya, Hagnyanawati juga diberi surat untuk menemui Samba di sana. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani