GUNADEWA dengan tegas menolak.
"Demi apa pun, aku tidak akan mengizinkan, meskipun itu permintaan Kakang Sitija, karena aku diberi perintah oleh Kanjeng Rama Prabu Kresna untuk menjaga tempat leluhur ini!"
Melihat perdebatan itu, Sitija mendekat. Sang raja turun tangan langsung.
"Hei, Gunadewa, jangan sombong hanya karena diberi tugas menjaga Astana Gadamadana," kata Sitija.
"Sebenarnya, Kanjeng Rama Prabu Kresna malu memiliki anak cacat sepertimu, makanya kamu disembunyikan di sini," imbuhnya.
Gunadewa tak gentar menghadapi Sitija.
"Apa pun alasannya, aku akan tetap memegang teguh perintah itu sebagai bentuk cinta kasihku pada orang tuaku, meskipun mungkin benar apa yang kau katakan."
Mendengar hal itu, Sitija murka.
Ia menyuruh Pancatnyana menghajar Gunadewa serta memerintahkan yang lain untuk merobohkan Astana Gadamadana.
Meskipun Gunadewa bertubuh setengah manusia dan kera, ia adalah cucu Resi Jembawan yang dulu mengabdi pada Resi Gotama, ayah Subali dan Sugriwa.
Tak heran jika ia juga memiliki kesaktian yang luar biasa.
Namun, karena jumlah dan kekuatan raksasa Trajutrisna sangat banyak, Gunadewa tidak mampu menandingi mereka.
Singkat kata, kalah jumlah, fisik, dan stamina.
Ia akhirnya tewas di tangan Ancakugra.
Ketika Gunadewa tewas, Sitija melihat sekelebatan dua orang berlari.
Dua orang itu adalah Samba, yang berlari bersama istrinya, Hagnyawati. Seakan tak percaya, ia menyuruh Wilmuna untuk mengejar mereka berdua. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani