Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Gojali Suta (1) - Darah Segar di Tanah Leluhur

Ki Damar • Senin, 1 Juli 2024 | 02:00 WIB

 

Ilustrasi cerpen lakon wayang Gojali Suta (AI GENERATED/CHAT GPT)
Ilustrasi cerpen lakon wayang Gojali Suta (AI GENERATED/CHAT GPT)

DARAH segar masih terlihat di Astana Gadamadana, tempat leluhur Mandura yang telah dirusak oleh sang raja Trajutrisna, Prabu Sitija alias Bomanarakasura.

Setelah puas membunuh adiknya, Raden Samba, karena mencintai istrinya, Sitija merasa masalah ini belum berakhir.

Maka, ia memanggil patihnya, Pancatnyana.

"Kemarilah dan dengarkan perkataanku. Siapkan barisan Trajutrisna!"

Pancatnyana bertanya-tanya dalam hatinya.

"Apa yang perlu paman lakukan untuk Paduka?" tanya sang patih.

"Ini pasti akan membuat Kanjeng Rama Prabu Kresna marah, bukan hanya karena aku membunuh Samba, anak tercintanya, tetapi juga karena kita merusak Astana Gadamadana," ujarnya.

"Itu adalah tempat leluhur Mandura dan Dwarawati!" sambung Pancatnyana.

Ia sudah menduga bahwa pertarungan antara anak dan ayah akan segera dimulai.

Sejak dulu, Pancatnyana merencanakan agar Sitija melawan Prabu Kresna.

Dulu, Raja Trajutrisna adalah Prabu Bomantra.

Karena Prabu Bomantra menyerang kahyangan, para dewa kalah.

Para dewa yang kebingungan kemudian meminta Kresna untuk merelakan anaknya yang masih dalam kandungan ibunya untuk melawan Prabu Bomantra.

Akhirnya, jabang bayi yang masih dalam kandungan itu dikeluarkan oleh para dewa untuk melawan Bomantra, sang raja Surateleng.

Jabang bayi itu lantas diberi kekuatan oleh para dewa.

Tak heran ia menjelma sebagai sosok yang sangat sakti. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#sitija #cerpen #pancatnyana #Kresna #Lakon #wayang