Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Gojali Suta (3) - Akulah yang Membunuh Rajamu

Ki Damar • Senin, 1 Juli 2024 | 02:30 WIB

 

 

Ilustrasi cerpen lakon wayang Gojali Suta (AI GENERATED/CHAT GPT)
Ilustrasi cerpen lakon wayang Gojali Suta (AI GENERATED/CHAT GPT)

PANCATNYANA merasa tidak sabar. Ia mengutarakan perasannya kepada sang raja atas situasi yang akan mereka hadapi.

"Anak Prabu, jika kita menunggu di sini, kita akan sia-sia. Siapa tahu kita telah diintai oleh Raja Dwarawati," ujarnya.

"Kita tahu bahwa Prabu Kresna adalah raja yang cerdas, tidak mungkin dia hanya berdiam diri. Pasti dia sudah melakukan tindakan yang tidak kita ketahui," sambung sang patih.

Sitija menganggukkan kepalanya. Ia meletakkan gelas minumannya yang sedari tadi digenggam.

"Paman, jangan gegabah. Aku pun tahu, tetapi Raja Dwarawati tidak akan menyerang lebih dulu sebelum kita menyerang," kata sang raja.

"Sebab, dia tidak mau disalahkan karena kejahatan perang. Sebagai negara besar dan tua, dia tidak akan memulai api perang karena itu akan menjatuhkan harga dirinya," imbuhnya.

Pancatnyana tak puas. Ia terus berusaha mendesak Sitija.

"Namun, prajurit semakin resah jika hanya menunggu. Jika kita menyerang lebih dulu, itu akan menunjukkan wibawa kita," kata Pancatnyana.

Saat ini, menurut Pancatnyana, hanya ada dua pilihan. "Antara diluruk (didatangi) atau ngeluruk (mendatangi)," ujar Pancatnyana.

Sitija merasa patihnya telah kelewat batas. Ia merasa Pancatnyana sok memerintah dirinya.

Tanpa basa-basi, Sitija mencekik Pancatnyana.

"Kenapa seolah engkau yang memberi perintah padaku, hmm? Apakah kau tidak tahu siapa aku? Aku adalah seseorang yang dulu, saat muda, bisa mengalahkan rajamu," kata Sitija.

"Dan kini aku bisa saja meledakkan kepalamu sekarang," sambung sang raja yang sedang diselimuti kemurkaan.

Amarah Sitija membuat Pancatnyana berkeringat dingin. Ia membisu. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#sitija #cerpen #pancatnyana #Lakon #wayang