SETELAH mendapat titah dari Kresna untuk menjadi panglima perang, Gatutkaca menemui Sitija yang merupakan kakaknya.
Ia ingin memastikan satu hal penting, sebelum mereka berdua saling beradu pedang di medan perang.
"Apakah sudah kamu pikirkan, hai Kakakku Sitija?" tanya Gatutkaca.
Sitija menjawab tanpa basa-basi.
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Mana Raja Dwarawati? Suruh dia datang ke sini menghadapi aku!"
Mendengar perkataan itu, Gatutkaca tidak terima karena uwaknya yang menjadi raja malah dihina.
Menurutnya, ini benar-benar penghinaan.
Pertarungan terjadi dengan sangat hebat.
Ketika Sitija jatuh terungkur, kepalanya terpenggal oleh Gatutkaca.
Namun, Sitija bangkit kembali karena memiliki ajian Pancasona, yang membuat pemiliknya bangkit hidup kembali jika menyentuh tanah.
Hal itu terjadi berulang-ulang hingga membuat Gatutkaca kebingungan bagaimana cara mengalahkan kakaknya.
Gatutkaca dipanggil oleh Kresna dan diberi tahu bahwa ketika Sitija mati lagi, akan ada anjang-anjang widodari dari kahyangan.
Saat itu, Gatutkaca harus menaruh jasad Sitija di anjang-anjang widodari agar tidak bisa bangkit.
Benar saja, Gatutkaca maju dengan gagah dan ketika Sitija mati, ia langsung membawa jasadnya ke anjang-anjang widodari.
Yang terjadi kemudian sunggguh mengejutkan.
Kobaran api besar seketika melahap seluruh jasad Sitija.
Anjang-anjang tersebut rupanya milik ibunya, Batari Pertiwi, yang telah mengikhlaskan anaknya kembali bersamanya di kahyangan.
Pancatnyana, Ancakugra, Amisunda, dan para pasukan yang lain dikalahkan dengan mudah oleh Bima dan Baladewa.
Pada akhirnya, pasukan Trajutrisna mundur dengan kematian Raja Sitija, anak Sri Kresna yang berani menentang sang ayah dan para leluhur. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani