TAHU betul bahwa Antareja sangat berbahaya, Kresna mencoba menghentikannya.
"Aku mengakui kekuatanmu, anakku. Jika kamu memang sakti, coba jilatlah musuh uwak yang bisa menghilang!"
Kresna menantang Antareja. Ia menunjuk telapak kaki, dan ternyata itu adalah telapak kaki Antareja sendiri.
"Ini telapak saya sendiri, Uwak Prabu," kata Antareja.
Kresna bertanya, "kalau kamu menjilat telapak kakimu, apa yang akan terjadi?"
"Pasti saya akan mati," jawab si lelaki yang haus akan pengakuan dari sang uwak.
Kresna kembali bertanya. Ia ingin menyadarkan Antareja.
"Berarti kamu takut mati. Lalu, kenapa kamu sombong ingin menjadi panglima jika kamu takut menjilat telapak kakimu sendiri?"
Di luar dugaan, Antareja dengan gagah berani menjilat telapak kakinya dan siap untuk mati, karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan eyangnya, Antaboga.
Apapun keputusan Kresna adalah yang terbaik.
Menurutnya, keputusan Kresna adalah kehendak dewa.
"Baiklah, Uwak. Aku akan siap mati, namun aku berpesan lindungilah anakku, Danurwenda."
Kresna berjanji akan memuliakan anak Antareja. Ia lalu menjilat telapak kakinya sendiri. Benar saja, Antareja mati seketika.
Bima yang mengetahui itu langsung menjerit. "Anakku mati!"
Kresna mengejarnya. Ia mencoba menenangkan Bima.
"Aku sudah bilang, sabarlah. Ketahuilah cerita nabi dulu yang disuruh membunuh anaknya. Itu ada, sampai ada peringatan hari kurban yang maknanya jangan kau terlalu cinta dunia," jelasnya.
Bima tidak terima. "Anakku adalah jiwaku."
Kresna menatap mata Bima yang kalut.
"Maksud peringatan kurban itu untuk mengingatkan manusia agar selalu pasrah kepada Tuhan," kata Kresna.
"Anak, istri, keluarga, derajat, pangkat, semua titipan. Itu bukan milikmu. Bahkan dirimu sendiri adalah milik Tuhan. Kenapa berat kehilangan sesuatu yang bukan milikmu?" sambungnya.
Nasehat dari Kresna tak dapat mengobati duka yang mendalam di hati Bima akibat kehilangan anaknya.
Ia berharap kematian Antareja adalah kisah sedih terakhir yang pernah ada di pihak Pandawa. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani