SUATU ketika di negara Astina, Duryudana ingin membawa kakeknya, Abiyasa, yang kini berada di pertapaan Saptaharga.
Hal ini dilakukan karena ia mendapat wangsit.
Isi wangsit itu, siapapun yang membawa kakeknya ke Astina akan membuat negara tersebut makmur dan terhindar dari bahaya atau bencana.
Ayahnya, Destarata, sangat mendukung keinginan Duryudana.
"Aku sangat senang mendengar keinginan luhurmu untuk membawa eyangmu ke negara Astina," kata Destarata.
"Ketahuilah, anakku, dulu ketika eyangmu menjadi raja di Astina, negara ini sangatlah subur, aman, sejahtera, dan banyak negara menghargai kita," sambung sang ayah.
"Namun, Rama, adikku Susena selalu menghalangi kebijakan apapun yang melibatkan eyang ataupun Pandawa," jawab Duryudana.
Destarata mencoba menenangkan sang putra.
"Anakku Kurupati, bersabarlah. Adikmu hanya khawatir kamu akan mengecewakan eyangmu, bukan menghalangi. Buktikan pada Susena bahwa kamu sungguh-sungguh, tidak berbohong."
Duryudana, yang juga dikenal sebagai Kurupati, lalu meminta izin pada ayahnya dan berangkat ke Saptaharga.
Benar saja, ketika pasukan Kurawa berangkat, Susena menghadang di pintu keluar Astina.
"Hentikan pasukanmu, Kakak Duryudana!" suruh Susena kepada kakaknya, sembari ia menunggang gajah. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani