SUATU hari, Arjuna ingin menikahkan anaknya, Wisanggeni, dengan Dewi Kanekawati. Namun, Wisanggeni awalnya menolak karena merasa belum siap untuk menikah.
"Aku masih muda, Rama. Aku belum memikirkan untuk menikah," kata Wisanggeni.
Arjuna berusaha meyakinkan sang putra.
"Aku tahu, tapi saudara-saudaramu sudah menikah. Lebih baik kamu juga menikah," ujarnya.
"Sesungguhnya, Dewi Kanekawati adalah wanita yang membawa wahyu katentreman dan kawibawaan. Ingatlah negara Amarta, anakku."
Dengan rasa penasaran, Wisanggeni bertanya kepada sang ayah.
"Memangnya, negara Amarta kenapa, Rama?"
Arjuna kembali mencoba memberi pengertian untuk sang putra.
"Amarta sedang tidak baik-baik saja. Banyak keributan dan bencana," jelas Arjuna.
"Menurut wangsit yang aku terima, siapa pun yang berhasil menikahi Dewi Kanekawati akan membawa kesejahteraan dan ketentraman bagi negara yang dihuni," sambungnya.
Mendengar penjelasan ayahnya, Wisanggeni merasa harus membantu menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi Amarta dan para leluhurnya.
"Baiklah, Rama. Saya akan mengikuti keinginan Rama. Dengan jalan ini, bukan hanya untuk kebahagiaanku sendiri, tetapi juga demi negara." (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani