HIMANDA bertanya kepada sang penyelamat.
"Apakah paduka Raden menerima kami sebagai saudara?"
Arjuna menjawab dengan terus terang.
"Ketahuilah, Raden, bahwa saya bersama anak saya Wisanggeni ini sesungguhnya ingin melamar saudaramu, Dewi Kanekawati."
Di luar dugaan, Megantara menyambut baik.
"Wah, sangat kebetulan bila begitu. Saya akan mengantar kalian ke rumah untuk bertemu dengan kanjeng rama, Begawan Kanekasabda."
Arjuna, Wisanggeni, dan kedua saudara kembar itu kemudian menuju ke pertapaan Cakrawala.
Di pertapaan Cakrawala, Begawan Kanekasabda menerima tamu Raden Arjuna, Raden Wisanggeni, dan kedua putra kembarnya.
"Kemana saja kalian berdua?" tanya Begawan Kanekasabda.
"Aduh, kanjeng rama, kami sedang berkelahi dengan Prabu Sitija karena ingin menikahi adik kami, Kanekawati. Dia memaksa kami dan marah hingga kami terhimpit di batu," kata Himanda.
"Lalu siapa yang menolong kalian?" tanya ayahnya.
Megantara menjawab, "Raden Wisanggeni ini, rama panembahan."
Begawan Kanekasabda berterima kasih kepada Raden Arjuna dan Wisanggeni.
Lalu Himanda menjelaskan bahwa Raden Arjuna ingin melamar Kanekawati untuk anaknya, Raden Wisanggeni. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani