"YAYI Arimbi, sabarlah. Bima berbicara seperti itu karena sebenarnya dia juga khawatir dengan anaknya. Jangan kau berpikir bahwa Bima adalah seorang ayah yang tak peduli," kata Puntadewa.
"Ingih, Sinuwun. Saya tahu hal itu," jawab Arimbi.
Kresna memberi nasihat kepada Bima.
"Adikku Bima, bagaimanapun juga Gatutkaca adalah anakmu."
"Meskipun dia penguasa Pringgondani dan senopati Amarta, dia tetap anak yang dulu kau tangisi ketika berumur dua tahun saat melawan Prabu Karungkala, Raja Gilingwesi," tutur Kresna.
Bima menggeram.
"Hemm... Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku akan mengikuti perintahmu, Kresna Kakangku."
Kresna menyuruh Bima untuk bersiap dalam sebuah perjalanan ke tempat yang mungkin asing.
"Ikut denganku, maka kita akan menemukan titik terang akan hal ini."
Tak lama kemudian, muncul keributan di Amarta.
Tambakganggeng, patih Amarta, menghadap kepada para petinggi.
"Sinuwun, di alun-alun ada seorang raja bernama Prabu Nagatawingnya yang menginginkan paduka untuk memberikan Pringgondani kepada dirinya sebagai jajahan Puser Bumi." (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani