KRESNA sangat bingung karena membangun pendapa yang pantas untuk para raja tidak mungkin sekejap mata.
Apa lagi, harus dengan hasil yang tidak mengecewakan.
Karena pandawa terkenal keluhuran dan kebaikanya, Kresna merasa harus memberikan pada pandawa dan raja yang datang yang terbaik.
Kresna sempat berpikir untuk menemui Semar sebagai pamong pandawa.
Karena Semar dan Kresna adalah sama-sama pamong pandawa yang bertanggung jawab atas kebaikan mereka.
‘’Kakang semar, bunuhlah aku, aku akan pasrah,’’ kata Kresna.
Semar terkejut mendengar perkatan Kresna.
’’Kenapa tiba-tiba paduka berbicara begitu? Bukankah semua berjalan dengan lancar hai Kresna?’’ jawab Semar.
‘’Aku lupa bahwa Amarta belum memunyai pendapa yang layak untuk tempat para raja dan pandita,'' kata Kresna.
''Sedangkan yayi Puntadewa pasrah padaku agar semua berjalan dengan lancar tanpa mengecewakan para tamu,’’ lanjut Kresna.
Semar menghela napas dalam dan lantas duduk. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan