“AMARTA sungguh indah, dan aku rasa semua ini sudah layak untuk mereka.
Ingatlah sinuwun mereka tidak akan rendah meskipun harus duduk di bawah pohon bambu seumpamanya.
Karena mereka datang atas kebaikan pandawa, dan sifat baik itu tidak bisa dihargai dengan sebuah materi’’ kata Semar.
‘’Namun begitu, apakah kakang Semar tidak melihat para raja yang lain?
Bila raja yang kenal pandawa pasti akan bisa menerima keadaan.
Tapi bagaimana dengan raja seberang.
Pasti mereka akan berbicara bahwa pandawa tidak menghargai mereka.
Samudera akan dapat diukur kedalamannya namun hati manusia siapa yang tahu?’’ jawab Kresna.
Semar berpikir sejenak, ’’Menjadi raja yang baik adalah dengan cara tidak melihat kemakmuran dan kekayaan seseorang.
Karena raja adalah hati mereka yang besar dan suci.
Bukan mental yang miskin.
Bila seorang raja mempunyai mental dan jiwa miskin dia akan serakah dan selalu tidak puas’’.
‘’Lalu aku harus bagaimana kakang Semar?’’ tanya Kresna.
‘’Baiklah sinuwun, tunggulah di sini. Aku akan memuja dan membedol pendapa Karang Kaendran milik Batara Indra’’ kata Semar.
Mata sri kresna terbelalak mendengar ucapan Semar.
(*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan