PERTARUNGAN itu membuat Kakrasana tidak berdaya.
Si ular misterius itu sangatlah besar. Tenaganya juga luar biasa kuat.
Akhirnya, ia memutuskan untuk menggunakan akalnya dan menyerahkan dirinya sepenuhnya, pasrah kepada nasib.
"Silakan bunuh aku, wahai ular. Aku tahu bahwa bertapa adalah hal yang sulit karena banyaknya godaan dan ujian," ujarnya.
"Akupun sadar mungkin Tuhan menakdirkanku untuk mati di tanganmu. Maka, aku pasrah dan aku minta maaf jika mengganggu hingga membuatmu merasa tidak nyaman," lanjut Kakrasena.
Melihat Kakrasena yang pasrah, ular tersebut merasa iba.
Ia lantas berubah wujud menjadi sosok aslinya, yang ternyat adalah Batara Brama, sang dewa api.
"Jangan terkejut, Kakrasana. Ular tadi adalah aku," kata Batara Brama.
Ia menjelaskan bahwa ia menjelma menjadi ular untuk menguji keteguhan hati Kakrasana.
Menurut Batara Brama, Kakrasana telah lulus ujian, maka ia pun berubah wujud kembali menjadi dewa.
Sang dewa mengapresiasi keteguhan hati dan keinginan Kakrasana untuk menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain.
Ia lalu memberikan anugerah berupa senjata kadewatan bernama Kyai Nenggala dan Alugara. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani