"BAGAIMANA ini, adik guru? Batari Tara telah diculik oleh Prabu Maesasura dan adiknya, Lembusura, dari kerajaan Guakiskenda," kata Batara Narada, dengan panik, kepada Batara Guru.
Sang lawan bicara terkejut.
Ia mempertanyakan keamanan kahyangan, mengapa bisa dibobol oleh makhluk dari bumi.
"Batara Indra, bagaimana bisa kahyanganmu dimasuki Maesasura?" tanya Batara Guru.
"Maafkan saya, Pukulun. Maesasura menjelma menjadi seekor kerbau kadewatan dan masuk ke kahyangan Kaendran, lalu membawa Batari Tara," jawab Batara Indra.
"Maafkan ketidakwibawaan saya, Pukulun," sambungnya, dengan gemetaran.
Ia takut akan kemarahan Batara Guru, penguasa kahyangan.
"Kakang Narada, turunlah ke bumi, tepatnya di hutan Sunya Pringga. Di sana ada seorang yang berwujud kera bernama Raden Subali. Ia sedang bertapa bersama Sugriwa," perintah Batara Guru.
"Mintalah bantuan pada Subali untuk menyelamatkan Dewi Tara. Jika dia berhasil, dia boleh memperistrinya," imbuhnya.
Batara Narada segera berangkat mencari Subali.
Bumi bukanlah tempat yang luas bagi para dewa. Karena itu, tak heran bila Batara Narada dengan cepat menemukan Subali.
Terlebih, orang-orang yang bertapa akan terlihat bercahaya dari kahyangan. "Oh, kamu di sini rupanya, Subali," kata Narada. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani