BIMA berterima kasih kepada Batara Basuki.
DIA segera pamit untuk menemui ibunya, Dewi Kunti.
Dia takut ibunya khawatir mencarinya.
Di tepi sungai, Dewi Kunti dan pandawa lainnya mencari Bima.
"Anakku Bima, ke mana kamu pergi? Tidak biasanya kau pulang selarut ini," kata Kunti.
Puntadewa mencoba menenangkan ibunya.
"Kanjeng Ibu, aku yakin adikku Bima tidak akan kenapa-kenapa,'' kata Puntadewa.
''Dia seorang ksatria yang sakti dan sering membantu sesama. Tidak mungkin manusia lain berani mengusiknya. Aku percaya sesuatu yang ditanam baik akan menuai kebaikan juga," lanjutnya.
Tak lama kemudian, Bima muncul dari tepi sungai Gangga.
Kunti segera berlari merangkulnya.
"Anakku, dulu aku khawatir karena kamu tidak bisa pecah tertutup bungkus (plasenta) selama dua belas tahun. Kini melihatmu sengsara, ibupun tak kuasa," kata Kunti.
Bima menceritakan bahwa dirinya dikeroyok Kurawa, diracun, dan dibuang ke sungai Gangga.
"Sabarlah, anakku. Jangan sampai cerita ini terdengar oleh uwakmu Destarata dan Widura. Ketahuilah, Bima, tidak semua keburukan dibalas dengan kejahatan,'' ucap Kunti.
''Hal yang baik adalah keburukan dibalas dengan kesabaran, ditebus dengan kebaikan. Itulah yang dinamakan manusia berbudi luhur. Hatinya akan merasa damai dan tenang. Ingatlah itu, anak-anakku," kata Kunti Tali Brata. (*/den)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan