"KITA harus kembali ke Pertapaan Talkandha untuk menemui Uwak Resi Bisma," tegas Widura.
Widura pun segera bergegas dengan kudanya menuju Pertapaan Talkandha.
Setibanya di sana, ia merasa senang karena akan membawa kabar bahagia meskipun itu baru sebatas dugaan.
"Bagaimana, Widura?" tanya Bisma dengan penuh harap.
Widura menjelaskan semua hasil penyelidikannya yang membuatnya semakin yakin bahwa Pandawa masih hidup.
Bukti-bukti juga akan segera dibawa ke Talkandha.
"Wahai Dewata yang Agung, sungguh Engkau Maha Pengasih pada hambamu yang lemah," kata Bisma dengan penuh syukur.
"Namun, saya berpesan pada Uwak Resi, agar penyelidikan ini jangan sampai diketahui orang lain sampai kebenarannya terungkap," ujar Widura.
Widura lantas menyampaikan rencananya agar penyelidikan ini tetap rahasia.
"Nanti, biarkan anak saya, Sanjaya, yang menyampaikan kebenaran ini kepada Kakang Narpati Destarata," sambungnya.
"Baiklah, Widura. Aku akan memerintahkan beberapa orang di pertapaan untuk menyamar dan mencari tahu keberadaan Pandawa. Aku yakin mereka belum jauh dari Astina," tutur Bisma.
"Oh cucuku, maafkan eyangmu. Segeralah kembali ke Astina, rakyat membutuhkan kalian," imbuh sang resi, dengan penuh harap.
Pencarian terhadap Pandawa masih terus berlanjut.
Mereka yakin bahwa matahari tetap akan bersinar di pagi hari meskipun malam selalu datang. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani