"SUNGGUH tega engkau, Sayempraba," ucap Anoman yang kemudian berusaha meninggalkan tempat itu bersama Gareng, Petruk, dan Bagong.
Beruntung, Semar tidak ikut buta karena ia merasa bahwa Dewi Sayempraba adalah seseorang yang tidak asing baginya.
Ia baru ingat ketika Anoman mulai buta, dan merasa beruntung karena dirinya tetap sehat.
"Aku sudah bilang, tidak baik menunda pekerjaan. Kalian tidak mendengarkan peringatanku, maka inilah akibatnya," kata Semar.
"Jangan hanya bicara, Pak! Tolonglah kami!" pinta Bagong.
"Aku harus menolong bagaimana? Aku ini hanya manusia biasa," kata Semar merendah.
Anoman terus mengerang.
Sembari kesakitan, ia meminta tolong kepada Semar.
"Tolonglah, Kakang! Aku tahu bahwa engkau adalah dewa yang dapat menebar kebaikan dan keberkahan," kata Anoman.
"Hmm... baiklah. Aku tidak bisa menolong sepenuhnya, tetapi aku akan berusaha," jawab Semar.
Semar pun menggandeng Anoman dan anak-anaknya untuk mencari obat.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Garuda Sempati yang sedang sedih karena bulunya rontok dan tidak bisa terbang seperti dulu. (*/naz)
*Penulis alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani