Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

LAKON WAYANG | Irawan Gugur (1) - Tidak Ada Jalur Damai

Ki Damar • Selasa, 20 Agustus 2024 | 02:30 WIB
Ilustrasi cerpen lakon wayang Irawan Gugur (AI GENERATED/CHAT GPT)
Ilustrasi cerpen lakon wayang Irawan Gugur (AI GENERATED/CHAT GPT)

PASUKAN Pandawa sudah bersiap berangkat dari Wirata.

Puntadewa masih diliputi kebimbangan, sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa mereka harus menempuh jalan perang demi merebut sebuah kerajaan.

Ia ingin segalanya diselesaikan dengan damai, terutama terhadap saudara-saudaranya.

"Ingat, Yayi Prabu, ini bukan hanya soal kekuasaan atau jabatan, tetapi demi menegakkan keadilan. Memang, terkadang kita harus menempuh jalan seperti ini," kata Sri Kresna.

"Kakang Kresna, kau tentu tahu jiwa Puntadewa. Kakakku ini lebih mengutamakan kerukunan dan persatuan. Jika ingin membahas perang, bicaralah denganku," timpal Bima.

"Puntadewa tidak paham cara-cara kekerasan, yang dia tahu hanyalah mengasihi sesama makhluk," imbuhnya.

Arjuna mengutarakan pandangannya kepada Puntadewa.

"Kakak Prabu, semua ini demi keadilan dan untuk mengakhiri angkara murka yang menguasai Kurawa," ujarnya.

Dalam benak Arjuna, Pandawa tak punya pilihan lain.

"Jika kita tidak bertindak, kejahatan akan semakin berkembang, dan lebih banyak lagi manusia yang akan menderita karenanya. Apakah Kakak Prabu ingin hal itu terjadi?" sambung Arjuna.

Puntadewa menghela napas panjang, menyadari bahwa tidak ada pilihan lain.

Dia hanya bisa mengikuti saran saudara-saudaranya.

"Tenanglah, Putu Prabu. Eyang telah berjanji, sebelum putra Wirata gugur, jangan sekali-kali maju ke medan perang," tutur Raja Wirata Prabu Matsapati.

Duduklah dengan tenang. Biarkan Eyang yang memimpin perang ini sementara waktu," lanjutnya. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #kurawa #Pandawa #arjuna #Lakon #wayang